Title: Iris Dragon 3
Genre: Action, Fantasy, Romance, Drama, Superpower.
Author: R Lullaby
Di Kerajaan Skyline
yang telah mendapatkan gempuran dari para monster kuat di bawah perintah Leia.
Kerusakan yang diterima amatlah
sangat besar, khususnya di kota pusat hingga menghentikan fungsi kota. Korban
jiwa tak terhitung banyaknya, isak tangis orang-orang yang kehilangan orang
disayangi terdengar keras di seluruh penjuru kota.
Tapi Kerajaan Skyline bisa dikatakan
masih lebih baik jika dibandingkan dengan kerajaan lainnya.
Kerajaan Benteng Selatan hancur hampir
di ratakan dengan tanah setelah kemunculan Beast Tamer dunia bawah, Jendral
Iblis Ignia. Kedatangannya yang bersama dengan ular mengerikan bernama
Serpentilia benar-benar membobandir Kerajaan Benteng Selatan hingga tak karuan.
Mantan
raja Kerajaan Benteng Selatan, Hizkil Anugerah pun gugur dengan gagah berani
mempertahankan harga diri umat manusia untuk ke sekian kalinya.
Dia
gugur setelah berhasil memukul mundur Ignia beserta Serpentiliannya, hingga
semua prajurit beserta rakyatnya yang masih hidup meneriakkan namanya dengan
isak tangis penuh penghormatan.
Lalu
pada akhirnya Azazel tak memberikan bantuan apapun pada Ignia, dan sepertinya
Jendral Iblis atau mantan malaikat itu memang hanya berniat mengamati daya
tempur umat manusia.
Seperti halnya sang raja dari
Benteng Selatan, Fie La Faras yang biasa dipanggil Ratu Fiela juga berniat
untuk mempertahankan kerajaannya, akan tetapi gempuran Sonia dalam satu gelombang
membuat segala apapun di Kerajaan Liviandra menjadi rata dengan tanah.
Sebuah tekanan Gravitasi yang kuat langsung
menyapu bersih segalanya, bangunan bahkan mahluk hidup pun langsung hancur
remuk karena tekanan gravitasi yang amat sangat menakutkan. Ratu Fiela, para
prajurit, beserta rakyatnya binasa seketika.
Sonia tak memberikan kesempatan
untuk mereka yang ia anggap tak pantas berhadapan dengannya. Dia memperlihatkan
perbedaan kekuatan signifikan yang amat sangat mengerikan.
Beberapa penduduk dari berbagai
kerjaan seperti Skylina, Liviandra, dan Shinforest yang selamat diungsikan ke pusat
benua, Kerajaan Central. Kota Pusat Anatashia yang menjadi pertahanan terakhir
umat manusia.
Dan kini sebuah pertemuan di pusat
kota Kerajaan Central sedang dilakukan, lebih tepatnya di ruangan yang
sebelumnya menjadi tempat percakapan Hardy, Reeslevia, dan yang lainnya.
“Sekarang apa yang akan kalian
lakukan?” Hardy bertanya menatap langsung Haikal dan Seica.
Haikal terlihat menurunkan pandangan
dengan kedua bola mata memerah, sedangkan Seica terlihat jongkok dan menangis
hingga bibirnya bersentuhan dengan lututnya.
“Tunggu, Kak. Mereka ....” Lapis
yang berdiri dan bersandar pada dinding ruangan mengeluarkan ucapan dengan nada
suara pelan.
“Biarkan kakakmu, Lapis. Dia sadar
jika kita benar-benar tak punya waktu lagi. Gempuran mereka selanjutnya mungkin
saja terjadi dekat-dekat ini,” ucap Aeldra yang berdiri di samping kanan Lapis.
Menyunggingkan senyuman di wajahnya sambil melirik Lapis.
Lapis membuang wajah dari Aeldra
dengan kedua mata tertutup rapat.
Haikal lekas menutup mata
rapat-rapat, kedua tangannya gemetar karena rasa ketakutan dan kesedihan
bercampur dalam hatinya. Tapi sentuhan hangat terasa di punggungnya, membuat
Haikal membuka mata dan lekas menengok ke belakang.
Ada Annisa di sana dengan senyuman
kecil yang begitu menenangkan, meski air mata di sisi kedua bola matanya masih
terlihat. Bekas tanggisan juga terukir di wajah karena kehilangan seluruh
keluarganya setelah insiden penyerangan sebelumnya.
Kedua bola mata Haikal melebar
melihat senyuman dari gadis berambut jingga itu yang begitu menenangkan hati.
Haikal pun lekas menurunkan pandangan sesaat terlihat lebih tenang dengan
seulas senyuman kecil yang seolah mendapatkan jawaban. Kedua pipinya juga
terlihat sedikit memerah sebelum pada akhirnya dia berbalik dan memberikan
tatapan keseriusan pada Hardy.
“Sekarang bukan saatnya kembali dan
membangun kerajaan kami yang sedang berantakan. Aku tau ini merepotkan untukmu,
tapi biarkan aku ikut serta dalam mempertahankan pusat Kekaisaran Aeldra.”
“Ak-aku juga! Sebagai Ratu
Li-Liviandra ketiga yang ditunjuk Kak Fiela, aku ingin membantu pusat
kekaisaran ini.” Seica juga mengeluarkan pernyataan dengan tangisan kecil yang
masih terlihat di wajah. Annisa datang menghampirinya, menggenggam tangan
kecilnya berniat menenangkan dia yang dipenuhi kesedihan.
Alyshial yang duduk di sana dan
sesekali meminum teh hangat tak terlalu mendengar ucapan Haikal dan Seica.
Tatapan kecemasan dan seluruh pikirannya tertuju pada Aeldra.
Kedua bola mata dan jemarinya yang
sedang memegang cangkir terlihat bergemetar sambil terus memberikan tatapan
kecil pada Aeldra.
“Ji-jika
kuingat lagi akan masa lalu, perlakuanku padanya sa-sangatlah ....” Batin Alyshial menutup mata cukup rapat seolah
tak kuasa melanjutkan isi hatinya.
“Tap-tapi
kenapa dia masih bisa tersenyum padaku waktu itu ....” Lanjut Alyshial
menundukkan kepala terlihat ingin mengeluarkan beban di matanya.
“Untuk saat ini kita ungsikan para
penduduk ke tempat penampungan di bawah tanah, lalu setelah itu mempersiapkan
segalanya untuk menyambut kedatangan mereka. Kita tak tau kapan serangan mereka
akan datang. Bagaimana menurutmu, Bibi Alysha?” Hardy mengeluarkan pernyatannya
sebelum bertanya pada salah satu pahlawan di masa lalu yang masih hidup.
“Kau benar, kita lakukan itu,”
senyum Alysha yang duduk di samping putrinya.
“Tapi bukankah it-itu terlalu cepat?
Maksudku mengungsikan para penduduk?” tanya Rina dengan senyuman kecil dan
keheranan.
“Serangan mereka sangat cepat dan
mengerikan, itu terbukti dari Kerajaan Liviandra, Shinforest, Ristorakt,
Benteng Selatan, dan Skylin –“
“Untuk kasus Kerajaan Skyline itu
bukan serangan mereka yah,“ Reai tiba-tiba memasuki ruangan dengan roti coklat
di tangan kanan dan kaleng susu di tangan kiri.
“Apa maksudmu– .... Tunggu, siapa
kau?” Hardy mengecilkan kedua kelopak mata, kecemasan dan penuh kewaspadaan
terlihat darinya. Tak hanya dia, tapi orang-orang disekitarnya, bahkan yang
sudah mengenalnya pun memberikan tatapan cemas dan sedikit ketakutan pada Reia.
“Ap-apa
ini, aura dingin yang keluar dari tubuhnya, yang bagai menusuk kulitku secara
terus-memeris ...?” batin Lapis memberikan tatapan keheranan pada Reia.
Reia yang merasakan kecemasan
sekitarnya lekas tertawa kecil sebelum akhirnya berucap menjelaskan.
“Ah, karena kondisinya yang seperti
ini..., aku sudah melepas limiterku. Meski tak sekuat Lunadelimiter atau Sybildelimiter,
limiterku cukup untuk menahan 89% kekuatanku. Jadi maaf yah membuat kalian terkejut,
tapi tenang nanti juga terbiasa kok.”
“....” Semua orang yang di dalam
ruangan hanya terdiam keheranan setelah mendengarkan penjelasan Reia.
“Hei, untuk apa menjelaskan hal itu
di sini. Mereka takkan mengerti ucapanmu itu, Reia.” Ucap Kiril yang tiba-tiba
muncul di belakangnya sambil tersenyum kecil pada Reia.
“Ah... Benar juga,” Reia sedikit
terkejut dan melebarkan kedua bola matanya seolah baru sadar.
“Tunggu, siapa sebenarnya
ka-kalian?” Reeslevia juga mengajukan pertanyaan dan memberikan tatapan
keheranan pada Reia dan Kiril.
“Elf ...?” Ratu Alysha bersuara
dengan penuh kecemasan menatap Kiril yang memiliki telinga lancip. Kiril hanya
tersenyum kecil melirik Alysha.
“Yah mengingat mulai sekarang kita
akan bekerja sama, lebih baik kita memperkenalkan diri terlebih dahulu?” Reia
menutup mata beberapa saat dengan senyuman sebelum akhirnya melirik lelaki di
sampingnya.
“Ya,” senyum Kiril menganggukkan
kepala.
“Reiafila Liapis Aura, itu nama
asliku. Seperti yang kukatakan sebelumnya pada Lapis dan yang lainnya. Aku
bukan berasal dari dunia ini.”
“....!??”
“Namaku
Kiril Amnesty Wisperia. Seperti yang diduga Ratu Alysha juga, aku seorang Fairy.
Atau di dunia ini biasa menyebutnya elf yah. Aku juga berasal dunia yang
berbeda, tentu saja dengan Reia juga,” senyum Kiril sedikit menundukkan kepala.
“Bu-bukan dari dunia ini!? Maksudmu
....” Reeslevia memberikan tatapan
keterjutan namun heran juga pada Reia.
“Ya, kalian biasa menyebutnya dunia
paralel atau dunia lain. Entah kalian mempercayai kami atau tidak, tapi tolong
percayalah jika kami berada di pihak kalian,” jelas Kiril.
“Itu juga jika kalian terus berada
di pihak Lapis dan Aeldra, yah.” Reia menambahkan dengan menutup sebelah
matanya.
“:..!” keterkejutan kembali nampak
dari orang-orang seperti Hardy dan yang lainnya, yang tak tau apapun tentang
Kiril dan Reia. Lalu, tatapan mereka penasaran mereka pun tertuju pada Lapis
dan Aeldra.
Aeldra pun mengecilkan kedua kelopak
matanya, memberikan tatapan tajam pada Reia dan Kiril. Tidak seperti Lapis yang
berwajah cemas.
“Sekarang..., biarkan aku bicara
tentang siapa yang menyerang Kerajaan Skyline?” lanjut Reia sambil melipat
kedua tangan di bawah dada. Dan terlihat selesai mememakan cemilannya.
“Ya, untuk saat ini kami akan
mempercayai ucapanmu.”
“Tunggu, Hardy!?” khawatir
Reeslevia.
“Kita saat ini butuh informasi,
meski tak terlalu akurat pun tak apa.”
“...Baiklah,” Reeslevia mengangguk
pelan. Rina yang berdiri di sampingnya hanya memegang tangan kanannya, berniat
menenangkan kecemasan kakaknya. Reeslevia pun membalas senyuman adiknya dengan
lembut.
“Pertama, seperti yang kukatakan
yang menyerang Kerajaan Skyline bukanlah para iblis yang berada di bawah
perintah Raja Iblis baru.” Reia menjelaskan.
“Lalu siapa yang berani menyerang
kami jika mereka bukan iblis –“
“Itu kakaku, “ pelan Reia menutup
mata beberapa saat memotong ucapan Hardy.
“Kakak ...?” Beberapa orang seperti
Lapis, Reeslevia, dan Alyshial bertanya heran.
“Ya. Lalu kedua musuh kita tidak
hanya Raja Iblis dan para pengikutinya, melainkan kakaku, yakni Leiafira Riena
Auila ....”
“Dan adikku, Chalica Senia Wisperia.
Kalian pasti sudah bertemu dengannya ‘kan, Ratu Alysha, Alyshial?” senyum Kiril
melanjutkan sambil melirik Alysha.
“Maksudmu gadis yang waktu itu
menyerang Selenia?” cemas Alyshial bertanya.
“Ya, gadis yang bersama dengan
Reia.”
“Nah di sini masalahnya. Kekuatan
merekalah yang paling harus kita waspadai, khususnya gadis bernama Senia–“
jelas Reia dengan senyuman kecemasan.
‘Tunggu kenapa mereka menyerang ki
..., ta?” tanya Reeslevia tapi langsung terdiam terkejut ketika telunjuk tangan
kanan Reia tertuju pada Lapis.
Lapis pun hanya berwajah cemas
karena tindakan Reia itu.
“Karena Lapis adalah harapan kalian,
dunia ini, dan dewa yang mengawasi dunia ini.”
“Maksudmu ...?” tanya kembali
Reeslevia yang kebingungan. Tidak hanya dia, tapi orang-orang di sekitarnya
juga terlihat bingung dan heran.
Reia melirik Kiril sesaat, dan Kiril
hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.
Reia pun menghela nafas panjang
beberapa saat sebelumnya akhirnya berucap.
“Sudah kuduga jika masalah ini lebih
kompleks dari kelihatannya yah, sepertinya aku harus menjelaskan pada kalian satu-satu.
Mulai
dari arti Last Mater dan seberapa besar berhaganya Lapis D. Angelina, lalu tentang
tiga pahlawan besar di masa lalu, dan tentang hubungan kami dengan mereka. Lalu
yang terakhir tentang alasan kami dengan mereka yang kini harus saling
berhadapan demi memperjuangkan kebenaran masing-masing.”
“....”
Ruangan itu langsung hening setelah pernyataan Reia.
“Tapi
sebelum itu, dimana Putri Selenia?” tanya Reia dengan tatapan mata yang
mengecil dan begitu tajam, hingga membuat sekitarnya cemas kembali.
“Ah
di-dia tadi tertidur karena kelelahan. Ini wajar baginya setelah beberapa hari
sebelumnya yang seperti itu,” Rina menjelaskan.
“Kiril
...” Reia berucap dan melirik Kiril cukup tajam, lelaki bertelinga lancip itu
pun sedikit menganggukkan kepala sebelum akhirnya berucap.
“Sinyalnya
seperti biasa saja ....”
“Dimengerti,”
senyum kecil Reia dan memejamkan mata beberapa saat sebelum akhirnya berucap
dengan mata keseriusan, berniat berucap menjelaskan beberapa hal.
Sedangkan
Kiril terlihat berjalan meninggalkan ruangan untuk mengawasi seseorang yang
diperintahkan Reia.
***
No comments:
Post a Comment