Thursday, 5 July 2018

Chapter 6

Title: Iris Dragon 3
Genre: Action, Fantasy, Romance, Drama, Superpower.
Author: R Lullaby
Status: Ongoing

Chapter 6
Pertahanan Terakhir

            Di Kerajaan Skyline yang telah mendapatkan gempuran dari para monster kuat di bawah perintah Leia.


            Kerusakan yang diterima amatlah sangat besar, khususnya di kota pusat hingga menghentikan fungsi kota. Korban jiwa tak terhitung banyaknya, isak tangis orang-orang yang kehilangan orang disayangi terdengar keras di seluruh penjuru kota.


            Tapi Kerajaan Skyline bisa dikatakan masih lebih baik jika dibandingkan dengan kerajaan lainnya.


            Kerajaan Benteng Selatan hancur hampir di ratakan dengan tanah setelah kemunculan Beast Tamer dunia bawah, Jendral Iblis Ignia. Kedatangannya yang bersama dengan ular mengerikan bernama Serpentilia benar-benar membobandir Kerajaan Benteng Selatan hingga tak karuan.


Mantan raja Kerajaan Benteng Selatan, Hizkil Anugerah pun gugur dengan gagah berani mempertahankan harga diri umat manusia untuk ke sekian kalinya.


Dia gugur setelah berhasil memukul mundur Ignia beserta Serpentiliannya, hingga semua prajurit beserta rakyatnya yang masih hidup meneriakkan namanya dengan isak tangis penuh penghormatan.


Lalu pada akhirnya Azazel tak memberikan bantuan apapun pada Ignia, dan sepertinya Jendral Iblis atau mantan malaikat itu memang hanya berniat mengamati daya tempur umat manusia.


            Seperti halnya sang raja dari Benteng Selatan, Fie La Faras yang biasa dipanggil Ratu Fiela juga berniat untuk mempertahankan kerajaannya, akan tetapi gempuran Sonia dalam satu gelombang membuat segala apapun di Kerajaan Liviandra menjadi rata dengan tanah.


            Sebuah tekanan Gravitasi yang kuat langsung menyapu bersih segalanya, bangunan bahkan mahluk hidup pun langsung hancur remuk karena tekanan gravitasi yang amat sangat menakutkan. Ratu Fiela, para prajurit, beserta rakyatnya binasa seketika.


            Sonia tak memberikan kesempatan untuk mereka yang ia anggap tak pantas berhadapan dengannya. Dia memperlihatkan perbedaan kekuatan signifikan yang amat sangat mengerikan.


            Beberapa penduduk dari berbagai kerjaan seperti Skylina, Liviandra, dan Shinforest yang selamat diungsikan ke pusat benua, Kerajaan Central. Kota Pusat Anatashia yang menjadi pertahanan terakhir umat manusia.


            Dan kini sebuah pertemuan di pusat kota Kerajaan Central sedang dilakukan, lebih tepatnya di ruangan yang sebelumnya menjadi tempat percakapan Hardy, Reeslevia, dan yang lainnya.


            “Sekarang apa yang akan kalian lakukan?” Hardy bertanya menatap langsung Haikal dan Seica.


            Haikal terlihat menurunkan pandangan dengan kedua bola mata memerah, sedangkan Seica terlihat jongkok dan menangis hingga bibirnya bersentuhan dengan lututnya.


            “Tunggu, Kak. Mereka ....” Lapis yang berdiri dan bersandar pada dinding ruangan mengeluarkan ucapan dengan nada suara pelan.


            “Biarkan kakakmu, Lapis. Dia sadar jika kita benar-benar tak punya waktu lagi. Gempuran mereka selanjutnya mungkin saja terjadi dekat-dekat ini,” ucap Aeldra yang berdiri di samping kanan Lapis. Menyunggingkan senyuman di wajahnya sambil melirik Lapis.


            Lapis membuang wajah dari Aeldra dengan kedua mata tertutup rapat.


            Haikal lekas menutup mata rapat-rapat, kedua tangannya gemetar karena rasa ketakutan dan kesedihan bercampur dalam hatinya. Tapi sentuhan hangat terasa di punggungnya, membuat Haikal membuka mata dan lekas menengok ke belakang.


            Ada Annisa di sana dengan senyuman kecil yang begitu menenangkan, meski air mata di sisi kedua bola matanya masih terlihat. Bekas tanggisan juga terukir di wajah karena kehilangan seluruh keluarganya setelah insiden penyerangan sebelumnya.


            Kedua bola mata Haikal melebar melihat senyuman dari gadis berambut jingga itu yang begitu menenangkan hati. Haikal pun lekas menurunkan pandangan sesaat terlihat lebih tenang dengan seulas senyuman kecil yang seolah mendapatkan jawaban. Kedua pipinya juga terlihat sedikit memerah sebelum pada akhirnya dia berbalik dan memberikan tatapan keseriusan pada Hardy.


            “Sekarang bukan saatnya kembali dan membangun kerajaan kami yang sedang berantakan. Aku tau ini merepotkan untukmu, tapi biarkan aku ikut serta dalam mempertahankan pusat Kekaisaran Aeldra.”


            “Ak-aku juga! Sebagai Ratu Li-Liviandra ketiga yang ditunjuk Kak Fiela, aku ingin membantu pusat kekaisaran ini.” Seica juga mengeluarkan pernyataan dengan tangisan kecil yang masih terlihat di wajah. Annisa datang menghampirinya, menggenggam tangan kecilnya berniat menenangkan dia yang dipenuhi kesedihan.


            Alyshial yang duduk di sana dan sesekali meminum teh hangat tak terlalu mendengar ucapan Haikal dan Seica. Tatapan kecemasan dan seluruh pikirannya tertuju pada Aeldra.


            Kedua bola mata dan jemarinya yang sedang memegang cangkir terlihat bergemetar sambil terus memberikan tatapan kecil pada Aeldra.


            Ji-jika kuingat lagi akan masa lalu, perlakuanku padanya sa-sangatlah ....”  Batin Alyshial menutup mata cukup rapat seolah tak kuasa melanjutkan isi hatinya.


            Tap-tapi kenapa dia masih bisa tersenyum padaku waktu itu ....” Lanjut Alyshial menundukkan kepala terlihat ingin mengeluarkan beban di matanya.


            “Untuk saat ini kita ungsikan para penduduk ke tempat penampungan di bawah tanah, lalu setelah itu mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan mereka. Kita tak tau kapan serangan mereka akan datang. Bagaimana menurutmu, Bibi Alysha?” Hardy mengeluarkan pernyatannya sebelum bertanya pada salah satu pahlawan di masa lalu yang masih hidup.


            “Kau benar, kita lakukan itu,” senyum Alysha yang duduk di samping putrinya.


            “Tapi bukankah it-itu terlalu cepat? Maksudku mengungsikan para penduduk?” tanya Rina dengan senyuman kecil dan keheranan.


            “Serangan mereka sangat cepat dan mengerikan, itu terbukti dari Kerajaan Liviandra, Shinforest, Ristorakt, Benteng Selatan, dan Skylin –“


            “Untuk kasus Kerajaan Skyline itu bukan serangan mereka yah,“ Reai tiba-tiba memasuki ruangan dengan roti coklat di tangan kanan dan kaleng susu di tangan kiri.


            “Apa maksudmu– .... Tunggu, siapa kau?” Hardy mengecilkan kedua kelopak mata, kecemasan dan penuh kewaspadaan terlihat darinya. Tak hanya dia, tapi orang-orang disekitarnya, bahkan yang sudah mengenalnya pun memberikan tatapan cemas dan sedikit ketakutan pada Reia.


            Ap-apa ini, aura dingin yang keluar dari tubuhnya, yang bagai menusuk kulitku secara terus-memeris ...?” batin Lapis memberikan tatapan keheranan pada Reia.


            Reia yang merasakan kecemasan sekitarnya lekas tertawa kecil sebelum akhirnya berucap menjelaskan.


            “Ah, karena kondisinya yang seperti ini..., aku sudah melepas limiterku. Meski tak sekuat Lunadelimiter atau Sybildelimiter, limiterku cukup untuk menahan 89% kekuatanku. Jadi maaf yah membuat kalian terkejut, tapi tenang nanti juga terbiasa kok.”


            “....” Semua orang yang di dalam ruangan hanya terdiam keheranan setelah mendengarkan penjelasan Reia.


            “Hei, untuk apa menjelaskan hal itu di sini. Mereka takkan mengerti ucapanmu itu, Reia.” Ucap Kiril yang tiba-tiba muncul di belakangnya sambil tersenyum kecil pada Reia.


            “Ah... Benar juga,” Reia sedikit terkejut dan melebarkan kedua bola matanya seolah baru sadar.


            “Tunggu, siapa sebenarnya ka-kalian?” Reeslevia juga mengajukan pertanyaan dan memberikan tatapan keheranan pada Reia dan Kiril.


            “Elf ...?” Ratu Alysha bersuara dengan penuh kecemasan menatap Kiril yang memiliki telinga lancip. Kiril hanya tersenyum kecil melirik Alysha.


            “Yah mengingat mulai sekarang kita akan bekerja sama, lebih baik kita memperkenalkan diri terlebih dahulu?” Reia menutup mata beberapa saat dengan senyuman sebelum akhirnya melirik lelaki di sampingnya.


            “Ya,” senyum Kiril menganggukkan kepala.


            “Reiafila Liapis Aura, itu nama asliku. Seperti yang kukatakan sebelumnya pada Lapis dan yang lainnya. Aku bukan berasal dari dunia ini.”


            “....!??”


“Namaku Kiril Amnesty Wisperia. Seperti yang diduga Ratu Alysha juga, aku seorang Fairy. Atau di dunia ini biasa menyebutnya elf yah. Aku juga berasal dunia yang berbeda, tentu saja dengan Reia juga,” senyum Kiril sedikit menundukkan kepala.


            “Bu-bukan dari dunia ini!? Maksudmu ....”  Reeslevia memberikan tatapan keterjutan namun heran juga pada Reia.


            “Ya, kalian biasa menyebutnya dunia paralel atau dunia lain. Entah kalian mempercayai kami atau tidak, tapi tolong percayalah jika kami berada di pihak kalian,” jelas Kiril.


            “Itu juga jika kalian terus berada di pihak Lapis dan Aeldra, yah.” Reia menambahkan dengan menutup sebelah matanya.


            “:..!” keterkejutan kembali nampak dari orang-orang seperti Hardy dan yang lainnya, yang tak tau apapun tentang Kiril dan Reia. Lalu, tatapan mereka penasaran mereka pun tertuju pada Lapis dan Aeldra.


            Aeldra pun mengecilkan kedua kelopak matanya, memberikan tatapan tajam pada Reia dan Kiril. Tidak seperti Lapis yang berwajah cemas.


            “Sekarang..., biarkan aku bicara tentang siapa yang menyerang Kerajaan Skyline?” lanjut Reia sambil melipat kedua tangan di bawah dada. Dan terlihat selesai mememakan cemilannya.


            “Ya, untuk saat ini kami akan mempercayai ucapanmu.”


            “Tunggu, Hardy!?” khawatir Reeslevia.


            “Kita saat ini butuh informasi, meski tak terlalu akurat pun tak apa.”


            “...Baiklah,” Reeslevia mengangguk pelan. Rina yang berdiri di sampingnya hanya memegang tangan kanannya, berniat menenangkan kecemasan kakaknya. Reeslevia pun membalas senyuman adiknya dengan lembut.


            “Pertama, seperti yang kukatakan yang menyerang Kerajaan Skyline bukanlah para iblis yang berada di bawah perintah Raja Iblis baru.” Reia menjelaskan.


            “Lalu siapa yang berani menyerang kami jika mereka bukan iblis –“


            “Itu kakaku, “ pelan Reia menutup mata beberapa saat memotong ucapan Hardy.


            “Kakak ...?” Beberapa orang seperti Lapis, Reeslevia, dan Alyshial bertanya heran.


            “Ya. Lalu kedua musuh kita tidak hanya Raja Iblis dan para pengikutinya, melainkan kakaku, yakni Leiafira Riena Auila ....”


            “Dan adikku, Chalica Senia Wisperia. Kalian pasti sudah bertemu dengannya ‘kan, Ratu Alysha, Alyshial?” senyum Kiril melanjutkan sambil melirik Alysha.


            “Maksudmu gadis yang waktu itu menyerang Selenia?” cemas Alyshial bertanya.


            “Ya, gadis yang bersama dengan Reia.”


            “Nah di sini masalahnya. Kekuatan merekalah yang paling harus kita waspadai, khususnya gadis bernama Senia–“ jelas Reia dengan senyuman kecemasan.


            ‘Tunggu kenapa mereka menyerang ki ..., ta?” tanya Reeslevia tapi langsung terdiam terkejut ketika telunjuk tangan kanan Reia tertuju pada Lapis.


            Lapis pun hanya berwajah cemas karena tindakan Reia itu.


            “Karena Lapis adalah harapan kalian, dunia ini, dan dewa yang mengawasi dunia ini.”


            “Maksudmu ...?” tanya kembali Reeslevia yang kebingungan. Tidak hanya dia, tapi orang-orang di sekitarnya juga terlihat bingung dan heran.


            Reia melirik Kiril sesaat, dan Kiril hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.


            Reia pun menghela nafas panjang beberapa saat sebelumnya akhirnya berucap.


            “Sudah kuduga jika masalah ini lebih kompleks dari kelihatannya yah, sepertinya aku harus menjelaskan pada kalian satu-satu.


Mulai dari arti Last Mater dan seberapa besar berhaganya Lapis D. Angelina, lalu tentang tiga pahlawan besar di masa lalu, dan tentang hubungan kami dengan mereka. Lalu yang terakhir tentang alasan kami dengan mereka yang kini harus saling berhadapan demi memperjuangkan kebenaran masing-masing.”


“....” Ruangan itu langsung hening setelah pernyataan Reia.


“Tapi sebelum itu, dimana Putri Selenia?” tanya Reia dengan tatapan mata yang mengecil dan begitu tajam, hingga membuat sekitarnya cemas kembali.


“Ah di-dia tadi tertidur karena kelelahan. Ini wajar baginya setelah beberapa hari sebelumnya yang seperti itu,” Rina menjelaskan.


“Kiril ...” Reia berucap dan melirik Kiril cukup tajam, lelaki bertelinga lancip itu pun sedikit menganggukkan kepala sebelum akhirnya berucap.


“Sinyalnya seperti biasa saja ....”


“Dimengerti,” senyum kecil Reia dan memejamkan mata beberapa saat sebelum akhirnya berucap dengan mata keseriusan, berniat berucap menjelaskan beberapa hal.


Sedangkan Kiril terlihat berjalan meninggalkan ruangan untuk mengawasi seseorang yang diperintahkan Reia.



***

           

No comments:

Post a Comment